Presiden Iran tidur di ruang tamu rumahnya sesudah lepas dari pengawal2nya yg selalu mengikuti kemanapun ia pergi. Menurut koran Wifaq, foto2 yg diambil oleh adiknya tersebut, kemudian dipublikasikan oleh media masa di seluruh dunia, termasuk amerika

Di bawah kepemimpinannya, saat ia meminta menteri2 nya untuk datang kepadanya dan menteri2 tsb akan menerima sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan2 darinya, arahan tersebut terutama sekali menekankan para menteri2nya untuk tetap hidup sederhana dan disebutkan bahwa rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi, sehingga pada saat menteri2 tsb berakhir masa jabatannya dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak.

Presiden Iran saat ini: Mahmoud Ahmadinejad, ketika di wawancara oleh TV Fox (AS) soal kehidupan pribadinya: "Saat anda melihat di cermin setiap pagi, apa yang anda katakan pada diri anda?"
Jawabnya: "Saya melihat orang di cermin itu dan mengatakan padanya:"Ingat, kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung jawab yang berat, yaitu melayani bangsa Iran ."
Kendaraan Kepresidenan :

Buku berjudul Ahmadinejad, The Lion from Aradan, banyak mengungkap kepribadian Mahmoud Ahmadinejad yang sewaktu kecil sempat diberi nama Mahmoud Saborjihan oleh ayahnya. Mahmoud artinya orang terpuji, sedangkan Saborjihan artinya pelukis karpet. Alasan ayahnya memberi nama Saborhijan, karena mereka berasal dari kota Aradan, salah satu tempat penghasil karpet di Iran. Saborjihan diganti menjadi Ahmadinejad oleh sang ayah ketika ia dan keluarganya pindah ke Teheran. Gara-garanya seseorang menyebut Saborjihan nama yang aneh, bermakna pelukis karpet, tapi orang yang bersangkutan tidak bisa melukis karpet.
Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad memang dikenal dengan keberanian dan kesederhanaannya. Ia ibarat oase di padang tandus. Di tengah pesimisme dunia Islam akan sosok pemimpin yang tangguh dan benar-benar mengabdi bagi kepentingan Islam dan kaum Muslimin, kemunculan Ahmadinejad membangkitkan percaya diri dan optimisme bahwa dunia Islam masih punya sosok pemimpin yang disegani dan menimbulkan decak kagum bagi siapapun yang mengenal kepribadiannya. Ahmadinejad memiliki kepedulian yang besar tentang situasi dan kondisi banyak negara-negara Muslim yang cenderung menjalin kerjasama dengan Barat, dibandingkan menjalin kerjasama yang kuat antar negara Islam. "Padahal, tabiat Barat itu, dari dulu ingin menguasai dunia dan menjadikan banyak negara sebagai jajahan," katanya seperti dikutip dari buku The Lion from Aradan.
Katanya, "Kita membutuhkan persatuan dan persaudaraan. Dunia Islam memiliki segala potensi untuk maju. Kekayaan alam dan sumber daya manusia sangat tersedia di negara-negara Islam." Coba kalau semua pemimpin negara Islam punya pikiran seperti ini, dijamin negara yang namanya AS dan sekutunya enggak bakal berani macem-macem. ya enggak sih ...
The Lion from Aradan ini, juga bukan tipe orang yang ABS-Asal Bapak Senang. Ketika masih menjadi walikota Teheran, Ahmdinejad pernah disindir Mohammad Khatami-presiden Iran saat itu-soal kemacetan lalu lintas di kota Teheran. Sindiran itu disampaikan Khatami, gara-gara dia terjebak macet saat akan menghadiri sebuah acara penting. Disindir Khatami, Ahmadinejad dengan tenang berkata,"Kita harus bersyukur memiliki presiden yang baru kali ini merasakan persoalan-persoalan yang setiap hari dirasakan oleh rakyat." Coba kalau pejabat Indonesia yang disindir begitu. Pasti langsung bikin jalan tol tiga tingkat, bangun fly over, dengan alasan mengatasi kemacetan. Enggak peduli kalau untuk membangun itu semua, rumah-rumah rakyat banyak yang digusur.
Ada lagi cerita mengharukan waktu Ahmadinejad masih jadi walikota Teheran. Pegawai kantor walikota beberapa kali melihat Ahmadinejad mengenakan seragam kebersihan sambil memegang sapu. Ya...pak walikota itu langsung turun tangan ketika melihat sampah berserakan. Bahkan ada yang pernah melihat Ahmadinejad turun dari mobil, hanya karena melihat sampah yang menumpuk di selokan. Sebagai walikota, Ahmadinejad memang selalu memberikan teladan bagi warga kotanya, tak heran kalau dia pernah menjadi nominator walikota terbaik se-dunia pada tahun 2005 bersama 550 walikota lainnya dari berbagai negara. Bukan itu saja, ternyata, sewaktu menjadi gubernur Ardabil, Ahmadinejad tiga kali berturut-turut mendapat penghargaan sebagai gubernur teladan.
Seorang Ahmadinejad juga bukan tipe orang yang gila hormat. Sejak ia menjabat sebagai presiden, Ahmadinejad memang melarang fotonya dipajang, bahkan kabarnya ia melarang ucapan selamat di koran-koran. Beda banget yah sama di Indonesia, baru mau jadi calon gubernur saja, sudah adu balap pasang foto dan iklan gede di koran, TV ... gimana kalau sudah jadi pejabat? Paling lupa sama janji-janjinya pada rakyat
Soal hidup sederhana bagi pejabat, Ahmadinejad pernah berujar,"Untuk mewujudkan masyarakat yang maju dan sejahtera, pejabat negara harus memiliki standar hidup yang sama dengan kebanyakan orang dalam masyarakat. Pemimpin harus mencerminkan kehidupan nyata masyarakat di sekitarnya, tidak hidup di menara gading!".
Keserdahanaan memang kental terlihat dari sosok presiden Iran ini, lihat gayanya berpakaian. Cuma pakai setelan jas tanpa dasi-setelan jas itu konon harganya juga murah meriah-kadang cuma pakai kemeja dibalut jaket. Tapi kenapa yah...tetap aja kelihatan berwibawa, enak gitu dipandang mata....
Belum lagi soal keberaniannya, yang selalu bikin negara-negara Barat merah telinga mendengar kritik-kritik pedasnya.
http://www.didiksugiarto.com/2009/02/belajar-dari-presiden-iran-ahmaddinejad.html#comment-form


